1.20.2012

PEMBELAJARAN MENGUNGKAPKAN KEMBALI ISI WACANA DENGAN MENGGUNAKAN KALIMAT SENDIRI SECARA LISAN PADA SISWA KELAS VI MI NEGERI SUKAWANGI KECAMATAN LEMAHSUGIHKABUPATEN MAJALENGKA

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Bahasa adalah sebagai media komunikasi yang dapat digunakan secara lisan dan tertulis. Oleh karena itu bahasa media komunikasi memegang peranan sangat penting.
Tarigan (1986:14) mengatakan bahwa bahasa yang tersimpan dalam pikiran seseorang dapat terwujud melalui perantara ujaran (lisan atau tulisan).
Komunikasi yang baik dapat dicapai lewat pengajaran bahawa yang mempunyai empat urutan-urutan keterampilan yang harus dikuasai seorang pembelajar bahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Menurut Taylor : ada 3 aspek bahasa yang perlu dipelajari dan dikuasai secara bersamaan yaitu aspek bunyi atau ujaran, aspek kosakata dan aspek tata bahasa atau struktur (Su’udi, 1990 : 39).
Dari empat keterampilan berbahasa tersebut dapat dilihat keterampilan mana yang dibutuhkan untuk komunikasi lisan dan keterampilan mana yang harus dikuasai untuk komunikasi tertulis.
Agar siswa dapat menggunakan bahasa yang dipelajari untuk berkomunikasi secara lisan dengan baik, maka siswa dituntut dapat menerima pesan dari orang lain dan dapat menyampaikan pesan tersebut kepada pihak lain tanpa mengalami kesulitan dalam berbicara.
Salah satu usaha untuk mencapai keterampilan menyimak dan berbicara adalah dengan melatih siswa menangkap/memahami isi wacana tertulis/lisan yang kemudian dilanjutkan dengan melatih siswa untuk menerangkan ide pokok pikirannya dalam berbicara yang disebut sebagai kemampuan reseptif dan kemampuan produktif.
Kebisaan seseorang berpikir logis akan sangat membantu dalam pembelajaran bahasa. Sudarwoto mengatakan (1998 : 4) bahwa siswa yang terbiasa berpikir logis akan mengekspresikan pikirannya dengan menyusun kalimat secara tidak sembarangan saja, dia akan berhati-hati dalam menggunakan kata kerja, kata depan, kata sambung, dalam menyusun kalimat dan dalam menyusun paragraphnya ide pokoknya.

B. Identifikasi Masalah
Pada umumnya siswa MI Negeri Sukawangi Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka banyak mengalami masalah yang sama yaitu kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dan mencarai jalan keluarnya, agar dapat bermanfaat bagi peningkatan proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti merumuskan permasalah sebagai berikut :
“Bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan”
Untuk mendukung penelitian ini, perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penelitian dapat terarah sesuai dengan sasaran yaitu :
1. Apakah materi wacana yang dipilih menarik bagi siswa ?
2. Adakah bagian-bagian wacana yang sulit dipahami oleh Siswa ?
3. Apakah wacana tersebut mempunyai nilai terapan/manfaat yang tinggi ?

C. Tujuan Penelitian
1. Menemukan cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan.
2. Memilih materi wacana yang menarik bagi siswa.
3. Mengetahui bagian-bagian wacana yang sulit dipahami siswa.
4. Mengetahui nilai terapan yang ada pada wacana.
5. Membantu siswa memperkaya kosakata, keterampilan dalam meringkas, merangkum secara urut dan menceritakan kembali isi wacana tanpa kesulitan dalam penyampaian kepada orang lain.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa :
a. Dapat meningkatkan keterampilan menceritakan kembali isi wacana secara lisan.
b. Dapat memperkaya kosakata.
c. Meningkatkan keterampilan menyimak wacana,
d. Memiliki kepercayaan diri dengan menggunakan kemampuan berbicara lebih baik dan sistematis.
e. Dapat menyadarkan akan pentingnya peran membaca dan berbicara sebagai media untuk menghubungkan cara berpikir.
f. Dapat menumbuhkan motivasi pentingnya membaca sebagai sarana memperkaya informasi dan pengetahuan.
2. Bagi Guru :
Dapat memperbaiki dan meningkatkan cara mengajar yang sangat berpengaruh pada mutu tamatan.
3. Bagi Sekolah :
Dapat melakukan inovasi pendidikan dan pengajaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

F. Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana secara lisan dapat diatasi dengan pelatihan pemahaman siswa terhadap isi wacana
download secara full di Salah satu usaha untuk mencapai keterampilan menyimak dan berbicara adalah dengan melatih siswa menangkap/memahami isi wacana tertulis/lisan yang kemudian dilanjutkan dengan melatih siswa untuk menerangkan ide pokok pikirannya dalam berbicara yang disebut sebagai kemampuan reseptif dan kemampuan produktif.
Kebisaan seseorang berpikir logis akan sangat membantu dalam pembelajaran bahasa. Sudarwoto mengatakan (1998 : 4) bahwa siswa yang terbiasa berpikir logis akan mengekspresikan pikirannya dengan menyusun kalimat secara tidak sembarangan saja, dia akan berhati-hati dalam menggunakan kata kerja, kata depan, kata sambung, dalam menyusun kalimat dan dalam menyusun paragraphnya ide pokoknya.

B. Identifikasi Masalah
Pada umumnya siswa MI Negeri Sukawangi Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka banyak mengalami masalah yang sama yaitu kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dan mencarai jalan keluarnya, agar dapat bermanfaat bagi peningkatan proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti merumuskan permasalah sebagai berikut :
“Bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan”
Untuk mendukung penelitian ini, perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penelitian dapat terarah sesuai dengan sasaran yaitu :
1. Apakah materi wacana yang dipilih menarik bagi siswa ?
2. Adakah bagian-bagian wacana yang sulit dipahami oleh Siswa ?
3. Apakah wacana tersebut mempunyai nilai terapan/manfaat yang tinggi ?

C. Tujuan Penelitian
1. Menemukan cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan.
2. Memilih materi wacana yang menarik bagi siswa.
3. Mengetahui bagian-bagian wacana yang sulit dipahami siswa.
4. Mengetahui nilai terapan yang ada pada wacana.
5. Membantu siswa memperkaya kosakata, keterampilan dalam meringkas, merangkum secara urut dan menceritakan kembali isi wacana tanpa kesulitan dalam penyampaian kepada orang lain.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa :
a. Dapat meningkatkan keterampilan menceritakan kembali isi wacana secara lisan.
b. Dapat memperkaya kosakata.
c. Meningkatkan keterampilan menyimak wacana,
d. Memiliki kepercayaan diri dengan menggunakan kemampuan berbicara lebih baik dan sistematis.
e. Dapat menyadarkan akan pentingnya peran membaca dan berbicara sebagai media untuk menghubungkan cara berpikir.
f. Dapat menumbuhkan motivasi pentingnya membaca sebagai sarana memperkaya informasi dan pengetahuan.
2. Bagi Guru :
Dapat memperbaiki dan meningkatkan cara mengajar yang sangat berpengaruh pada mutu tamatan.
3. Bagi Sekolah :
Dapat melakukan inovasi pendidikan dan pengajaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

F. Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana secara lisan dapat diatasi dengan pelatihan pemahaman siswa terhadap isi wacana
untuk mendapatkan PTK lengkap silahkan download disini Blog Advertising

1.17.2012

PENGARUH ALAT BANTU LOMPAT RINTANG DAN MERAIH SASARAN DIATAS TERHADAP KEMAMPUAN TINGGINYA LOMPATAN SISWA MTs NEGERI TALAGA

B. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, baik sebagai arena adu prestasi maupun sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Olahraga mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui olahraga dapat dibentuk manusia yang sehat jasmani, rohani serta mempunyai kepribadian, disiplin, sportifitas yang tinggi sehingga pada akhirnya akan terbentuk manusia yang berkualitas. Suatu kenyataan yang bisa diamati dalam dunia olahraga, menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan prestasi olahraga yang pesat dari waktu kewaktu baik ditingkat daerah, nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilihat dari pemecahan-pemecahan rekor yang terus dilakukan pada cabang olahraga tertentu, penampilan tehnik yang efektif dan efisien dengan ditunjang oleh kondisi fisik yang baik
Dengan adanya kecendrungan prestasi yang meningkat, maka untuk berpartisipasi dan bersaing antar atlet dalam kegiatan olahraga prestasi harus dikembangkan kualitas fisik, tehnik, psikologi dan sosial yang dituntut oleh cabang olahraga tertentu. Oleh karena itu melalui pengembangan dan pembinaan di masyarakat, olahraga wajib diajarkan di sekolah-sekolah dari sekolah tingkat dasar, sekolah tingkat pertama sampai dengan sekolah tingkat menengah.
Permainan bola voli merupakan permainan yang banyak digemari orang diseluruh dunia, sampai sekarang pertandingan – pertandingan tingkat internasional sering digelar di berbagai Negara
Untuk terampil bermain bola voli, maka pemain harus menguasai beberapa jenis keterampilan bermain voli antara lain servis, passing, setting, dan spike. Prestasi yang dicapai oleh suatu regu ditentukan oleh kemampuan para pemain dalam mengkombinasikan keseluruhan keterampilan ini.
Jika dilihat dari aspek mekanik gerak, maka dari keempat adalah servis dan spike. Karena kedua jenis keterampilan ini berfungsi sebagai senjata penyerangan untuk menghasilkan angka.
Untuk spike yang efektif, maka pemain harus :
1. Meningkatkan kecepatan horizontal yang tinggi pada saat awalan
2. Mengubah kecepatan horizontal menjadi kecepatan vertical yang tinggi pada waktu takeoff
3. Meningkatkan tegangan maksimum selama persiapan lompatan ( kedua tangkai harus ditahan dan meminimalkan fleksi lutut selama fase persiapan lompatan )
4. Tidak memulai gerak ekstensi selama fase persiapan lompatan.
Pembelajaran adalah suatu aktivitas mengajar dan belajar yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar, maka ada pula yang belajar. Proses belajar-mengajar akan menghasilkan perubahan tingkah laku pada siswa berupa perubahan kognitif, perubahan afektif, dan perubahan psikomotor. Perubahan psikomotor dapat dicapai melalui proses belajar keterampilan gerak.
Banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar-mengajar keterampilan gerak. Dalam hal ini Nadisah (1983: 40) mengemukakan bahwa faktor pendukung keberhasilan belajar-mengajar antara lain sebagai berikut:
1. Karakteristik individu yang bersangkutan;
2. Luas dan tingkat kesulitan materi;
3. Metode penyampaian;
4. Kondisi-kondisi yang disediakan;
5. Penggunaan media;
6. Kesempatan yang tersedia; dan
7. Guru serta tujuan instruksional
Dengan demikian banyak faktor yang menentukan dalam melaksanakan kegiatan proses belajar-mengajar agar mencapai hasil yang baik.
Salah satu faktor penting yang turut menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar adalah media yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Penggunaan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai diharapkan dapat mencapai hasil yang efektif. Hal ini seperti dikemukakan Surachmad (1984: 59) bahwa:
Satu di antara teknik yang lazim dipergunakan ialah pemakaian alat-alat pembantu mengajar, baik sebagai alat peraga, maupun sebagai manusia sumber, dan lain-lain lagi. Jadi pakta prinsipnya penggunaan alat pembantu harus dapat mempertinggi efisiensi metode utama yang dipakai mengajar, artinya bahwa setiap penggunaan alat pembantu harus dapat membawa guru dan murid lebih dekat lagi pada tujuan yang telah ditetapkan. Surachmad (1984: 59).
Dalam proses belajar-mengajar, keterampilan merupakan salah satu faktor untuk mencapai tujuan gerak yang diharapkan (hasil belajar), kadang-kadang guru olah raga dihadapkan pada suatu kendala terutama kesulitan yang menyangkut terbatasnya fasilitas, baik itu lapangan atau peralatan, tak terkecuali dalam bidang olah raga permainan bola voli terutama spike
Dari pengamatan penulis pada beberapa kegiatan belajar-mengajar permainan cabang bola voli di sekolah-sekolah baik di kota maupun di daerah, banyak guru olah raga yang kurang memanfaatkan alat-alat bantu pembelajaran. Padahal alat bantu berguna untuk menjadi daya dukung dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Seperti telah diungkapkan terdahulu bahwa salah satu tujuan dari spike adalah meningkatkan kecepatan horizontal yang tinggi pada awalan .
Banyak alat bantu dalam proses belajar-mengajar bola voli yang dapat digunakan, salah satu alat bantu yang penulis kembangkan dalam hal ini adalah latihan lompata dengan rintangan dan lompat meraih sasaran.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pengaruh Alat Bantu Lompat Rintang dan Meraih Sasaran di Atas Terhadap Kemampuan Tingginya Lompatan siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka

C.Rumusan Masalah
Seperti yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah di atas, bahwa banyak faktor yang dapat menentukan keberhasilan dalam mempelajari keterampilan gerak. Salah satunya adalah penggunaan Alat Bantu . Yang dimaksud Alat Bantu dalam penelitian ini adalah lompat dengan rintang dan lompat meraih sasaran


Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil permasalahan sebagai berikut :
Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintang dan meraih sasaran diatas terhadap kemampuan tingginnya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
D.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan tingginya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
2. Apabila ditemukan ada perbedaan maka akan dicari bentuk latihan mana yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap kemampuan tingginya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
E. Kegunaan Penelitian
Apabila hasil penelitian ini menunjukan hasil yang positif, diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bahan masukan bagi guru pendidikan jasmani untuk mempertimbangkan penggunaan Alat Bantu dalam proses belajar mengajar bola voli terutama spike.
2. Bahan informasi mengenai efektivitas penggunaan Alat Bantu terhadap hasil belajar bola voli terutama spike.


F. Hipotesis
Hipoteisis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti malalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1998 : 67). Penolakan atau penerimaan suatu hipotesis sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap data-data yang terkumpul.
Berdasarkan hasil analisis dari latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran di atas, maka dapat dikemukakan rumusan hipotesis peneliti sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan tingginya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
G. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 2000 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 115), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan subjek penelitian dan keseluruhan individu itu paling sedikit harus memiliki suatu sifat yang sama.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas VIII MTs Negeri Talaga yang berjumlah 30 orang siswa putra. Adapun alasan pengambilan populasi adalah :
1. Mereka sama-sama dalam satu sekolah, yaitu siswa putra kelas VIII MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka
2. Mempunyai jenis kelamin yang sama , yaitu laki-laki
Berdasarkan uraian di atas, maka populasi yang diambil telah memenuhi syarat, dimana suatu populasi harus memiliki minimal satu sifat yang sama, berarti populasi ini dapat diterima.
G. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 1998 : 117). Pendapat lain, Sutrisno Hadi (2000 : 221), menjelaskan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang diselidiki.
Pedoman dalam pengambilan jumlah sampel ini, penulis mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto (1998 : 120) yaitu hanya untuk sekedar ancer-ancer apabila subyek kurang dari 100 sebaiknya diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyek besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, dana, dan tenaga.
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra kelas VIII MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka , yang berjumlah 30 anak. Subyek yang diteliti sejumlah 30 orang siswa maka ditetapkan sebagai sampel semua karena jumlah sampel atau subyeknya kurang dari 100 orang. Oleh sebab itu dalam penentuan atau pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling, yaitu mengikutkan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian.





H.Tahap-Tahap Penelitian
Dalam penelitian ini penulis melakukan tahap-tahap penelitian sebagaimana tercantum pada diagram berikut ini :
























I.Teknik Pengolahan Data
Setelah data diperoleh melalui hasil tes awal dan tes akhir langkah selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan rumus-rumus statistik. Dari hasil pengolahan dan penganalisaan melalui penghitungan statistik akan diperoleh jawaban mengenai diterima atau ditolaknya hipotesis sesuai dengan tingkat kepercayaan atau taraf nyata yang diajukan, juga akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan permasalahan yang ada.
Adapun langkah-langkah pengujian terhadap dua perlakuan setelah data didapatkan yaitu : (1) Mengetes normalitas dari distribusi masing-masing kelompok; (2) Jika ternyata keduanya berdistribusi normal dilanjutkan dengan pengetesan tentang homogenitas variansinya; (3) Jika ternyata variansinya homogen dilanjutkan dengan uji t (Nurgana, 1995 :21).
1. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan maksud untuk mengetahui bahwa data berdistribusi normal atau tidak normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Chi-kuadrat (2). Langkah-langkah dalam uji normalitas adalah sebagai berikut :
a. Membuat distribusi frekuensi
1) Menentukan rentang (R)
R = Nilai terbesar – nilai terkecil
2) Menentukan banyaknya kelas interval (K)
K = 1 + 3,3 log n
3) Menentukan panjang kelas (P)

4) Memasukkan data nilai dalam tabel berikut :
Skor fi xi xi2 fixi fixi2


5) Menghitung rata-rata dengan rumus :

6) Menghitung standar deviasi dengan rumus :

b. Menguji normalitas dengan langkah-langkah berikut :
1) Menentukan batas kelas interval (bk)
2) Mentransformasikan batas kelas interval kedalam bentuk normal standar (z) dengan rumus :

3) Menghitung luas kelas interval (l)
Dihitung dengan menggunakan daftar z dengan cara za-zb
4) Menghitung frekuensi yang diharapkan (Ei)
Ei = l x n
5) Menghitung Chi-kuadrat (2)

dimana :
Oi : frekuensi observasi
Ei : frekuensi ekspektasi
6) Menentukan derajat kebebasan
dk = k – 3
7) Menentukan Chi-kuadrat (2) daftar
8) Menentukan kriteria uji normalitas
Jika 2hitung  2 tabel maka data berdistribusi normal dan jika sebaliknya maka data berdistribusi tidak normal.
2. Tes Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat bahwa data berdistribusi homogen, pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji-F. Langkah-langkah dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut :
a. Menentukan variansi data penelitian
b. Mencari nilai tingkat homogenitas (F)



dimana :
F = nilai tingkat homogenitas
Sb2 = variansi terbesar
Sk2 = variansi terkecil
(Sudjana, 1996 : 249)
c. Menentukan derajat kebebasan
Rumus : dk1 = n1 – 1 dk2 = n2 – 1
Keterangan :
dk1 = derajat kebebasan pembilang
dk2 = derajat kebebasan penyebut
n1 = ukuran sampel yang variansinya besar
n2 = ukuran sampel yang variansinya kecil
d. Menentukan nilai F dari tabel
e. Penentuan homogenitas
Jika Fhitung  Ftabel maka kedua variansi homogen.
Jika Fhitung  Ftabel maka kedua variansi tidak homogen.
3. Uji Hipotesis
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bila data berdistribusi homogen dilakukan uji t dan bila tidak berdistribusi homogen maka dilakukan uji t’. Adapun rumus yang digunakan yaitu :
- Rumus uji t untuk data yang berdistribusi homogen :

Standar deviasi gabungan (Sp) dihitung dengan rumus :

(Sudjana, 1996 : 239)
Derajat kebebasan dihitung dengan rumus :
v = n1 + n2 – 2
(Sudjana, 1996 : 249)
- Rumus uji t’, bila data tidak homogen yaitu :

Derajat kebebasan dihitung dengan rumus :

(Sudjana, 1996 : 241)
b. Menentukan nilai t tabel
c. Menguji hipotesis
Jika t hitung  t tabel maka perbedaan rata-rata kelompok eksperimen dan rata-rata kelompok kontrol signifikan pada taraf tertentu, jadi kesimpulannya Hipotesis Nol (H0) ditolak (Sudjana, 1996 : 23).

J.Lokasi dan lamanya penelitian

1. Lokasi MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
2. Lamanya penelitian 4 minggu
Blog Advertising

NINI-NINI MALARAT JEUNG DELEG (GABUS) KASAATAN

Jaman baheula aya nini-nini malarat teu kinten-kinten, papakéanana geus butut sarta laip, disampingna ogé, ngan ukur bisa nutupan orat. Kitu deui dahar leueutna salawasna ngan sapoé sakali baé, malah-malah sakapeung mah datang ka potpisan sapoé dua poé henteu manggih-manggih sangu, ngan ukur nginum cai wungkul. Ari buburuh dederep henteu kaduga jeung geus henteu laku, wantu-wantu enggeus kolot kurang tanagana. Jadi kahirupanana taya deui ngan tina ngaroroték baé dina tegal-tegal atawa kebon awi, ari beubeunanganana dipaké nukeuran béas atawa cangkaruk ka tatanggana.
Pandéning imahna ngan sempil baé, ditangkodkeun kana pongpok imah baturna, kitu ogé hateupna bilikna geus balocor, wantu-wantu henteu aya pisan, anu daék nulung mangngoméankeun, ku tina henteu boga sanak baraya, sumawona anak incu, éstuning nunggul pinang.
Ari éta nini-nini téh sakitu nya kokolotanana henteu pisan nyaho ka gusti Alah, ulahbon ngalampahkeun téa kana paréntahna, jenenganana ogé henteu apal, pangrasana ieu bumi jeung langit téh jadi sorangan baé, euweuh anu midamel.
Dina hiji mangsa éta nini-nini geus dua poé henteu manggih-manggih dadaharan, sosoroh nukeuran sangu ka tatanggana taya nu méré.
Ti dinya manéhna tuluy ngajentul di imahna bari humandeuar pokna, “Aduh, cilaka teuing diri aing ieu, nya ayeuna paéh langlayeuseun téh”.
Sanggeus ngomong kitu téh,tulcel, boga niat rék ngaroroték deui ka tegal, bari sugan manggih dangdaunan atawa bongborosan nu ngeunah dihakan, keur tamba ulah langlayeuseun teuing. Geus kitu bral leumpang ngajugjug ka tegal kaso urut nyundutan, anu deukeut kana talaga, sarta di sabeulahna deui nyandingkeun walungan gedé. Barang datang ka dinya, éta nini-nini téh manggih lauk deleg pirang-pirang, rék pindah tina walungan kana talaga. Sanggeus nepi kana tengah-tengah éta tegal kabeurangan, panon poé geus kacida teuing panasna, jadi deleg kabéh awakna taluhur kukumurna, ku tina seuseut datang ka henteu bisa maju leumpangna. Kusabab éta deleg kabéh pada nyandang susah tanwandé manggih bilahi paéh kasaatan.
Di dinya éta nini-nini téh bungah kacida, pikirna geus tangtu manggih untung meunang lauk pirang-pirang boga keur nukeuran sangu. Tapi manéhna héran neuleu aya hiji deleg, anu panggedéna ti sakabéh baturna, jeung deui leumpangna ogé pangheulana, kawas-kawas nu jadi ratuna sarta bisaeun ngomong, pokna, “Samiun Alah kuring neda hujan! Samiun Alah kuring neda hujan!” Kitu baé omongna bari tatanggahan ka luhur. Ari ku nini-nini téh didéngékeun baé saomong-omongna éta deleg téh, hayang nyaho kumaha kajadianana. Barang geus kira-kira satengah jam lilana datang hujan gedé naker wani cileungcangan, ti dinya éta deleg barisaeun deui leumpang tuluy kebat lumakuna, ari nini-nini téh datang ka ngadégdég awakna tina bawaning tiris kahujanan sarta léngoh balikna teu barang bawa.
Kacaritakeun éta nininini téh sanggeus datang ka imahna tuluy mikir bari ngomong di jero haténa, “Ih boa lamun aing ogé neda widi ka nu ngaran Alah téh, meureun di paparin, ari piomongeunana mah nya cara deleg téa baé, ngan bédana aing mah rék neda uwang.
Ti dinya éta nininini ség baé tapakur di imahna, bari ngomong tatanggahan ka luhur nurutan sakumaha kalakuan deleg téa. “Samiun Alah kuring neda uwang! Samiun Alah kuring neda uwang!” Kitu baé omongna teu eureun jeung pikirna anték kacida panedana ka gusti Alah, datang ka geus teu aya pikiran deui ka nu séjén.
Ari jalma anu imahna di tangkodan ku imah nininini téh, banget ngéwaeunana, ku sabab gandéng jeung bosen, saunggal poé unggal peuting ngadéngékeun omongna éta nininini, ngan kitu baé, taya pisan répéhna. Tuluy baé nyentak ka nininini téh pokna, “Nini! Répéh aing gandéng, ngan kitu baé euweuh deui kasab, moal enya Alah téh sumping ka dieu, seba duit ka manéh; jeung kitu baé mah anggur ngala suluh, ngala daun ka leuweung meureun aya hasilna; jeung deui; lamun manéh henteu beunang di carék, geura undur baé imah manéh ulah ditangkodkeun ka imah aing.
Panyentakna éta nu boga imah ku nininini henteu digugu, tonggoy baé ngomong nyuhunkeun duit ka Alah anggur beuki tambah maksudna.
Bareng geus nepi ka lima poéna, anu boga imah téh, beuki kacida garétékeunana, henteu beunang dicarék, sarta dititah undur henteu los. Ti dinya éta jalma tuluy nyokot karung goni beunang ngeusian ku beling, datang ka pinuh sarta dipékprékan, supaya jejel ambih beurat, niatna rék dipaké ngabobodo ka nini-nini téa, sina di nyanaan duit paparin Alah ragrag ti luhur, jeung sugan nyeurieun ditinggang tonggongna, ku éta karung ambih kapok moal ngomong kitu-kitu deui
Kira-kira geus wanci sareupna ku éta jalma karung téh dibawa naék ka para, tuluy diponcorkeun tina sipandak ditindihkeun ka handap mener kana tonggongna nininini téh kalengger tina bawaning nyeri. Ana geus inget, nénjo aya karung ngadungkuk kacida atoheunnana, panyanana nya éta karung duit, paparin ti Alah.
Anu boga imah téh suka seuri nénjo kalakuan nini dug-dug deg-deg, semu banget atohna. Geus kataksir piengkéeunana bakal meunang éra kabobodo, karana nu dikarungan téh tétéla pisan yén beling.
Geus kitu karung téh disembah ku nini-nini téh bari ngomong kieu, “Nuhun Alah! Nuhun! Naha loba-loba teuing maparin duit téh, mana ari keur ajengan, aya kénéh nun?” Ti dinya tuluy geuwat dibuka. Geus kitu kersana nu agung, dumadakan éta beling kabéh jadi duit, aya uwang emas aya uwang pérak, jeung deui kumaha gedéna baé aya nu jadi ringgit, aya nu jadi ukon.
Ari isukna tatangga kabéh daratang ngadegdeg, yén éta nini-nini meunang bagja boga duit pirang-pirang, asal tina dibobodo, malah kapala distrik sumping ka dinya ngalayad, sarta tuluy dilaporkeun ka nagara jeung ditétélakeun asal purwana. Ari timbalan ti nagara, éta nini-nini henteu kaidinan cicing di kampung, bisi aya nu nganiaya dipaling duitna, jeung diurus dipangmeulikeun lembur imah, katut eusina. Ti wates harita éta nini-nini téh jadi sugih teu kinten-kinten.
Kitu deui dipikanyaah ku menak-menak tina saregep kumawulana jeung tambah alus budina, kalulutan ku jalma réa sobatna, tina suka tulung ka jalma-jalma nu miskin, sumawonna ka nu keur kasusahan, margi ngaraskeun kadirina basa keur malarat kénéh.
Kacaritakeun éta jalma, anu méré karung beling téa, kabitaeun naker neuleu éta nini-nini téa jadi beunghar, lantaran dibobodo karung beling ku manéhna. Geus kitu boga niat hayang nurutan.
Ti dinya tuluy nganjang, sejana rék badami, supaya dibales ku éta nini-nini téa sina nindih ku karung beling ka manéhna, pokna, “Nini saterangna éta duit téh asalna beling beunang kula ngarungan, dipaké ngabobodo ka sampéan, kusabab satadina kaula giruk ngadéngékeun ajengan ngomong baé nyuhunkeun duit ka Alah, tatapi ahir-ahir éta beling dumadakan wet jadi duit kabéh. Ku prakara éta ayeuna kaula rék neda dibales ku sampéan, hayang ditinggang ku karung beling, karana tanwandé jadi duit ogé cara nu geus kalampahan, tatapi kaula mah hayang ditinggang ku dua karung, nu galedé, ambeuh kaula leuwih beunghar manan nini. Wangsul nini téh, “Hadé heug baé geura tapakur, cara kaula baréto”. Ti dinya éta jalma téh tuluy balik, sadatang ka imahna heug baé tapakur nurutan sakumaha polahna nini-nini téa sarta ngomong, pokna, “Samiun Alah kuring neda uwang! Samiun Alah kuring neda uwang!” Kitu baé omongna jeung pikirna ujub kacida nangtukeun yén bakal meunang duit ti Alah dua karung goni parinuh. Bareng geus nepi ka lima poéna, nini-nini téh tuluy ka imahna éta jalma nu keur tapakur téa, bari mawa dua karung beling beunang méprékan, sarta tuluy dibawa naék nka para, ti dinya heug éta dua karunganana ditindihkeun kana tonggongna.
Barang blug ninggang, sek baé kapaéhan malah-malah tulang tonggongna datang kapotong.
Arina inget ngageuwat ménta parukuyan ka pamajikanana, heug karung téh dikukusan, ari mentas dikukusan tuluy disembah, bari ngomong nurutan cara omong nini-nini téa, pokna, “Nuhun Alah! Nuhun! Naha maparin duit réa-réa teuing, mana ari keur ajengan? Aya deui?”
Barang geus tamat ngomong karungna dibuka, béh beling kénéh baé henteu daékeun jadi duit, ti dinya kacida hanjakaleunana datang ka ngalembah rék ceurik tina bawaning aral, ség baé bijil omongna suaban ngahina ka gusti Alah pokna, “Ih naha Alah téh wét pilih kasih, dipangnyieunkeun duit sawaréh? Ari kaula henteu? Jeung deui: kumaha naha atawa Alah téh geus diganti deui tayohna, da nu baréto mah bisa nyieun duit ku beling, ari Alah nu jeneng ayeuna tayoh-tayoh henteu bisaeun.
Ti wates harita éta jalma gering heubeul pisan nyeri cangkéng, tatamba kapirang-pirang dukun. Tina aya kénéh berkah Alah bisa cageur ogé, tatapi tanpadaksa, jadi bongkok tonggongna, datang ka henteu kuat nyiar kahirupan rosa-rosa, lawas-lawas manéhna jadi malarat cara nininini téa, kawas-kawas jadi tépa malaratna éta nini ka éta jalma téa.

Blog Advertising

ASAL USUL GUNUNG MANIK



 jaman budha anu di gunung manik eyang bayu anak incu buyut enggen anu ngawitan islam.putra na bpk sarma jeung asma anu nampi islam.
1. Bpk asma putra na muti ema kolot palim anu di salado
2. Bpk sarma putra na bpk.sanwari,bpk sanroi.
Datang na islam tahun 1180, riwayat prabu siliwangi putra na liansantang jeung rara santang sareng kian santang au aya di mekah.rara santang anu aya di laut kidul,nyirundai kasih anu aya di desa-desa.
Putra na kian santang,syarif khidayatulloh anu aya di mekah.syarif ku ibu na di titah ka pulau jawa indit ka jepang.jepang tuluy nyita pamajikan raja jepang.raja jepang ngabohong ka syarif  yen pamajkkan na ker hamil tuluy syarif di usir,banyat ka jawa.
Di jawa timur syarif nga islam ken,terus di jawa barat ek nga islamken bpk.kolotna nyaeta prabu siliwangi.tapi anjeuna te narima, ku incuna diceta jadi macan.syarif cicing di Cirebon boga pamajikan 3.anu k3 pamajikan na putri cina.
Putra syarif aya 2:
1.hasanudin
2.akhriffudin
Hasanudin anu nga islamken di banten,akhriffudin anu di jawa barat .
Sa enggeus anjena singgah di jawa barat,ahkriffudin langsung ngembangkken agama islam ka pelosok-pelosok daerah di jawa barat.
Di salah sahiji daerah anjeuna nimukken batu anu gede anu ngaranna batu cupu manic.ngan ka beh beh die eta batu tehg ngaluarkken cai,jadi eta batu tehg di jadi ken liang cai.
Ku sabab daerah na deket jeung citaman anu pagunungan jadi bae eta cupu manic tehg dig anti jadi gunung manik.
1.      Jumlah penduduk di desa gunug manik:
L =1673
P =1698
2. nami pamong desa : subarna
3. Pakasaban penduduk :
a.PNS =34 urang
b.TNI   = -
c.P.swasta = 1410
d.Petani = 801 urang

Batas desa :
Sabelah kaler  sunia,kec banjaran
sabelah kidul :sukasari,kec cikijing
sabelah wetan  :kertarahayu,kec talaga
sabelah kulon  :argasari,kec talaga
Blog Advertising

1.15.2012

PROPOSAL


PROPOSAL RISET DENGAN JUDUL GAMBARAN PARTISIPASI IBU YANG MEMPUNYAI BALITA DALAM MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU DI RW XX KEL. XX KEC. XX KOTA BOGOR TAHUN 2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010 yang dicanangkan oleh pemerintah, kualitas dan kuantitas dari pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memberikan pelayanan holistik pada klien dalam rangka memenuhi sasaran yang ingin dicapai.
Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu merupakan bagian dari pembangunan kesehatan yang diprogramkan oleh pemerintah dimana sasarannya adalah pembangunan kesehatan untuk mencapai keluarga kecil, bahagia dan sejahtera yang dilaksanakan oleh keluarga, bersama masyarakat dengan bimbingan dari petugas kesehatan setempat.
Dari data Sekretaris Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat adanya kejadian luar biasa (KLB) pada akhir tahun 2000 seperti penyakit Polio, KEP, Gizi buruk, dan lain – lain yang melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia banyak disebabkan karena kurangnya pemberdayaan masyarakat memanfaatkan Posyandu, padahal dari segi APBN – P tahun 2006, untuk anggaran kegiatan Posyandu nasional sebesar 491,6 milyar.
Menurut Tinuk I (2003), Pemberdayaan adalah upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi aktif, berperan aktif, bernegosiasi, mempengaruhi dan mengendalikan kelembagaan masyarakatnya secara bertanggung gugat demi perbaikan kehidupannya.
            Posyandu diperkenalkan pada masyarakat Indonesia sejak tahun 1984, dan dalam perkembangannya Posyandu tumbuh dengan pesat hingga sekitar tahun 1993, namun setelah tahun 1993 Posyandu mengalami penurunan fungsi dan kegiatannya, padahal dalam pembiayaan penyelenggaraan Posyandu tergolong relatif murah, namun dapat menjangkau cakupan target yang lebih luas, sehingga Posyandu merupakan alternatif pelayanan kesehatan yang perlu dipertahankan.
Dari data Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, di Jawa Tengah terdapat 46.388 unit Posyandu. Untuk wilayah kabupaten Brebes terdapat 1.531 unit Posyandu, sedangkan untuk wilayah kecamatan Sirampog terdapat sekitar 78 unit Posyandu, dan untuk wilayah desa Mendala terdapat 5 (lima) buah Posyandu yaitu Posyandu Melati di dukuh Sabrang, Posyandu Dahlia di dukuh Dukuh Lor, Posyandu Mawar di dukuh Karanganyar, Posyandu Bunga Bangsa di Balai desa Mendala dan Posyandu Pancajaya di dukuh Padanama.
Berdasarkan study pendahuluan, didapatkan adanya penurunan jumlah kunjungan peserta Posyandu di desa Mendala kecamatan Sirampog kabpaten Brebes dari 544 orang menurun menjadi 104 orang bulan Maret 2006. Disamping itu dari 10 orang warga yang diwawancarai secara acak tentang peran dan fungsi Posyandu, didapatkan sebagian besar tidak mengetahui program kerja yang dimiliki Poyandu serta jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan oleh Posyandu. Dari kelima posyandu tersebut kegiatan yang selama ini dilakukan adalah pemeriksaan tumbuh kembang balita (penimbangan) dan pemeriksaan ibu hamil.
Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat berkunjung ke Posyandu, tetapi ada juga masyarakat yang tidak mau berkunjung ke Posyandu. Faktor yang menyebabkan masyarakat tidak mau berkunjung ke Posyandu bisa berasal dari dalam diri orang itu sendiri (faktor Predisposisi) dan dari luar orang itu sendiri (faktor Pemungkin dan faktor Penguat). Salah satu faktor Predisposisi adalah pengetahuan. Faktor pengetahuan masyarakat yang baik mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan status kesehatan seseorang, sedangkan pengetahuan masyarakat yang buruk dapat menyebabkan kegagalan dalam peningkatan status kesehatannya.
Dari data statistik desa Mendala kecamatan Sirampog kabupaten Brebes sebagian besar masyarakatnya berpendidikan tamatan SD, (data bulan Desember 2005 87% lulus SD, 11% lulus SLTP dan 2% lulus SLTA dan Perguruan Tinggi.

Menurut Drs. Kodyat, MPA (1996), dalam kegiatan Posyandu terdapat bermacam kegiatan kesehatan mulai dari pemeriksaan tumbuh kembang balita, sampai penyuluhan tentang penatalaksanaan diare. Disamping kegiatan diatas, peran Posyandu mencakup rujukan pasien ke Puskesmas dan kunjungan rumah, dimana kegiatan ini untuk mengetahui bagaimana seorang penderita setelah mendapatkan pengobatan dari Puskesmas dan perawatan apa saja yang masih diberikan,(2,9) sehingga Posyandu diharapkan dapat memenuhi tuntutan masyarakat, yakni menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, yang sesuai dengan harapan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian saat ini, peneliti merumuskan beberapa rumusan masalah diantaranya :
1)      Bagaimana gambaran partisipasi ibu yang memepunyai balita dalam mengukiti kegiatan posyandu
2)      Berapa rata-rata usia ibu yang mempunyai balita yang mengikuti kegiatan posyandu
3)      Apa jenis pekerjaan ibu yang mempunyai balita yang mengikuti kegiatan posyandu
4)      Apa pendidikan ibu yang mempunyai balita yang mengikuti kegiatan posyandu
5)      Apa motivasi ibu yang mempunyai balita dalam mengikuti kegiatan posyandu

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran partisipasi ibu yang mempunyai balita dalam mengikuti kegiatan posyandu di wilayah RW XIII Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor
1.3.2 Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui gambaran partisipasi ibu balita yang mengikuti kegiatan posyandu
b) Untuk mengetahui berapa rata-rata usia ibu balita dalam mengikuti posyandu
c) Untuk mengetahui jenis pekerjaan ibu balita yang mengikuti posyandu
d) Untuk mengetahui jenis pendidikan ibu balita yang mengikuti posyandu
e) Untuk mengetahui motivasi ibu balita dalam mengikuti kegiatan posyandu
1.4 Manfaat Penelitian
a) Bagi Peneliti
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan pengalaman yang nyata mengenai pengaruh tingkat pengetahuan tentang peran dan fungsi Posyandu terhadap motivasi kunjungan masyarakat.
b) Bagi Puskesmas
Hasil dari penelitian ini dapat menjadi masukan bagi Puskesmas sebagai fasilitator Posyandu dalam meningkatkan mutu pelayanan Posyandu terutama dalam memotivasi kunjungan masyarakat.
c) Sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut.
Diharapkan menjadi acuan bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian sejenis dan penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut sehingga bermanfaat bagi kita semua.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teori
2.1.1 Pengertian Partisipasi
Pengertian partisipasi dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan.
Partisipasi adalah keikutsertaan, peranserta tau keterlibatan yang berkitan dengan keadaaan lahiriahnya (Sastropoetro;1995).
Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK, 2007).
Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa, partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat. Theodorson dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian sehari-hari,
Partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.
Menurut konsep proses pendidikan, partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responses atas rangsangan-rangsangan yang diberikan; yang dalam hal ini, tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan (Berlo, 1961).
Partisipasi masyarakat merutut Hetifah Sj. Soemarto (2003) adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka. Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakata, tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal, alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia.

2.1.2 Tipologi Partisipasi
Penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat serngkali terhambat oleh persepsi yang kurang tepat, yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” oleh sebab itu kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat juga disebabkan karena sudah adanya campur tangan dari pihak penguasa. Berikut adalah macam tipologi partisipasi masyarakat
a. Partisipasi Pasif / manipulatif dengan karakteristik masyrakat diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi, pengumuman sepihak oleh pelkasan proyek yanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran.
b. Partisipasi Informatif memilki kararkteristik dimana masyarakat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, masyarakat tidak diberikesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian dan akuarasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat.
c. Partisipasi konsultatif dengan karateristik masyaakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi, tidak ada peluang pembutsn keputusan bersama, dan para profesional tidak berkewajiban untuk mengajukan pandangan masyarakat (sebagi masukan) atau tindak lanjut
d. Partisipasi intensif memiliki karakteristik masyarakat memberikan korbanan atau jasanya untuk memperolh imbalan berupa intensif/upah. Masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembelajan atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan asyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah intensif dihentikan.
e. Partisipasi Fungsional memiliki karakteristik masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek, pembentukan kelompok biasanya setelah ada keptusan-keputusan utama yang di sepakati, pada tahap awal masyarakat tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan kemandiriannya.
f. Partisipasi interaktif memiliki ciri dimana masyarakat berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan penguatan kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan sisteatis. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan) keputusan-keputusan merek, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegitan.
g. Self mobilization (mandiri) memiliki karakter masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebabas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilai-niloai yang mereka miliki. Masyarakat mengambangkan kontak dengan lembaga-lemabaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan. Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada dan atau digunakan.
2.1.3 Tahap-Tahap Partisipasi
Uraian dari masing-masing tahapan partisipasi adalah sebagai berikut :
a. Tahap partisipasi dalam pengambilan keputusan
Pada umumnya, setiap program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat, yang dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat atau di tingkat lokal (Mardikanto, 2001).
b. Tahap partisipasi dalam perencanaan kegiatan
Slamet (1993) membedakan ada tingkatan partisipasi yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan, partisipasi dalam tahap pelaksanaan, partisipasi dalam tahap pemanfaatan. Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. Dalam tahap perencanaan, orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan tujuan, maksud dan target. Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih di dalam sistem lingkungannya. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal dari atas umumnya amat mendalam. Oleh karena keadaan ini, peranan masyarakat sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan menanggung kehidupan mereka. Oleh sebab itu, sistem perencanaan harus didesain sesuai dengan respon masyarakat, bukan hanya karena keterlibatan mereka yang begitu esensial dalam meraih komitmen, tetapi karena masyarakatlah yang mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis atasan (Slamet, 1993).
c. Tahap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan, seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak (yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di dalam kegiatan pembangunan. Di lain pihak, lapisan yang ada di atasnya (yang umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan, tidak dituntut sumbangannya secara proposional. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja, uang tunai, dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan diterima oleh warga yang bersangkutan (Mardikanto, 2001).

d. Tahap partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan. Bukan saja agar tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan, tetapi juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan (Mardikanto, 2001).
e. Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan
Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan, merupakan unsur terpenting yang sering terlupakan. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan merupakan tujuan utama. Di samping itu, pemanfaaatan hasil pembangunan akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam setiap program pembangunan yang akan datang (Mardikanto, 2001).

2.1.4 Tingkat Kesukarelaan Partisipasi
Dusseldorp (1981) membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaan sebagai berikut:
a. Partisipasi spontan, yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman, penghayatan, dan keyakinannya sendiri.
b. Partisipasi terinduksi, yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan, pengaruh, dorongan) dari luar; meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.
c. Partisipasi tertekan oleh kebiasaan, yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya, atau peranserta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan, nilai-nilai, atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Jika tidak berperanserta, khawatir akan tersisih atau dikucilkan masyarakatnya.
d. Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan.
e. Partisipasi tertekan oleh peraturan, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari peraturan/ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan.

2.1.5 Syarat tumbuh partisipasi
Margono Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sangat ditentukan oleh 3 (tiga) unsur pokok, yaitu:
a. Adanya kemauan yang diberikan kepada masyarakat, untuk berpartisipasi
b. Adanya kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi
c. Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi
Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkut kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi adalah sebagai berikut
a) Kemauan
Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan, dorongan atau tekanan dari pihak luar). Tumbuh dan berkembangnya kemauan berpartisipasi sedikitnya diperlukan sikap-sikap yang:
1) Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan.
2) Sikap terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya.
3) Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas sendiri.
4) Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan pembangunan.
5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya

b). Kemampuan
Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah:
1) Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah.
2) Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.
3) Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya lain yang dimiliki
Robbins (1998) kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Lebih lanjut Robbins (1998) menyatakan pada hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik
.
c). Kesempatan
Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat dipengaruhi oleh:
1) Kemauan politik dari penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan.
2) Kesempatan untuk memperoleh informasi.
3) Kesempatan untuk memobilisasi dan memanfaatkan sumberdaya.
4) Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi tepat guna.
5) Kesempatan untuk berorganisasi, termasuk untuk memperoleh dan mempergunakan peraturan, perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan.
6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Sementara Mardikanto (1994) menyatakan bahwa pembangunan yang partisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk mencapai perbaikan kesejahteraan masyarakat (secara material), akan tetapi harus mampu menjadikan warga masyarakatnya menjadi lebih kreatif. Karena itu setiap hubungan atau interaksi antara orang luar dengan masyarakat sasaran yang sifatnya asimetris (seperti: menggurui, hak yang tidak sama dalam berbicara, serta mekanisme yang menindas) tidak boleh terjadi. Dengan dimikian, setiap pelaksanaan aksi tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke dalam masrakat sasaran, akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan orang-orang dalam untuk merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam masyarakatnya sendiri.
Mardikanto (2003) menjelaskan adanya kesempatan yang diberikan, sering merupakan faktor pendorong tumbuhnya kemauan, dan kemauan akan sangat menentukan kemampuannya.
2.1.2 Konsep Prilaku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku. Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh – tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing – masing. Sehingga yang dimaksu perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal 114).
Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S – O - R”atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses.
a. Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebutelecting stimulation karena menimbulkan respon – respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya ddengan mengadakan pesta, dan sebagainya.
b. Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Pernagsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.
2.1.3 Bentuk Perilaku
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dakam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belumbisa diamati secara jelas oleh orang lain.
b. Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice).
2.1.4 Domain Perilaku
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor – factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
b. Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominanyang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)
2.1.5 Proses Tejadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni.
a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu.
b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
c. Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya).Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetanhuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting). Notoatmodjo, 2003 hal 122)
2.2 Pengertian Posyandu
Pos Pelayanan terpadu atau Posyandu adalah unit kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dengan pembimbing dari tenaga kesehatan dari Puskesmas yang bertujuan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).
Posyandu atau pos pelayanan terpadu, merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk masyarakat dengan dukungan tehnis dari petugas kesehatan.
2.2.1 Tujuan Posyandu
a) Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak.
b) Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR.
c) Mempercepat penerimaan NKKBS.
d) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan – kegiatan lainyang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat.
e) Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi.
f) Meningkatkan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih tehnologi untuk swakelola usaha – usaha kesehatan masyarakat.
2.2.2 Strata Posyandu
Strata Posyandu dapat dikelompokkan menjadi 4 :
a). Posyandu Pratama :
• belum mantap.
• kegiatan belum rutin.
• kader terbatas.


b). Posyandu Madya :
• kegiatan lebih teratur
• Jumlah kader 5 orang

c). Posyandu Purnama :
• kegiatan sudah teratur.
• cakupan program/kegiatannya baik.
• jumlah kader 5 orang
• mempunyai program tambahan
d). Posyandu Mandiri :
• kegiatan secara terahir dan mantap
• cakupan program/kegiatan baik.
• memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap.


2.2.3 Sasaran Posyandu
Yang menjadi sasaran dalam pelayanan kesehatan di posyandu adalah untuk :
a) Bayi yang berusia kurang dari satu tahun
b) Anak balita usia 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun
c) Ibu hamil
d) Ibu menyusui
e) Ibu nifas
f) Wanita usia subur
2.2.4 Kegiatan Posyandu
• Lima kegiatan posyandu (Panca Krida Posyandu)
a). Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
b). Keluarga Berencana
c). Imunisasi
d). Peningkatan Gizi
e). Penatalaksanaan Diare
• Tujuh kegiatan Posyandu (Sapta Krida Posyandu)
a). Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
b). Keluarga Berencana
c). Imunisasi
d). Peningkatan Gizi
e). Penatalaksanaan Diare
f). Sanitasi Dasar
g). Penyediaan Obat Esensial
2.2.5 Pembentukan Posyandu
Posyandu dibentuk dari pos–pos yang telah ada seperti :
a). Pos penimbangan balita
b). Pos immunisasi
c). Pos keluarga berencana desa
d). Pos kesehatan
e). Pos lainnya yang di bentuk baru.
2.2.6 Syarat Posyandu
a). Penduduk RW tersebut paling sedikit terdapat 100 orang balita
b). Terdiri dari 120 kepala keluarga
c). Disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa)
d). Jarak antara kelompok rumah, jumlah KK dalam satu tempat atau kelompok tidak terlalu jauh.
2.2.7 Alasan Pendirian Posyandu
a. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatan khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan pelayanan KB.
b. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana.
2.2.8 Penyelenggara posyandu
a). Pelaksana kegiatan
Adalah anggota masyarakat yang telah di latih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan puskesmas.
b). Pengelola posyandu
Adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari kader PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah tersebut.
2.2.9 Lokasi Posyandu
a). Berada di tempat yang mudah didatangi
b). Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri
c). Dapat merupakan lokal itu sendiri
d). Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan dirumah penduduk, balai desa, pos RT/RW atau pos yang lainnya.

2.2.10 Pelayanan kesehatan yang dijalankan Posyandu
a).Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita
• Penimbangan bulanan
• Pemberian makanan tambahan bagi yang berat badannya kurang
• Imunisasi bayi 3 – 14 bulan.
• Pemberian oralit untuk menanggulangi diare.
• pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama.

b). Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur.
• Pemeriksaan kesehatan umum
• Pemeriksaan kehamilan dan nifas
• Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah.
• Imunisasi TT untuk ibu hamil
• Penyuluhan kesehatan dan KB
• Pemberian alat kontrasepsi KB
• Pemberian oralit pada ibu yang menderita diare
• Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama.
• Pertolongan pertama pada kecelakaan.
2.2.11 Sistem Lima Meja
a). Meja I
• Pendaftaran
• Pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur.
b). Meja II
• Penimbangan balita
• Ibu hamil
c). Meja III
• Pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat)
d). Meja IV
• Diketahui berat badan anak yang naik/tidak naik, ibu hamil dengan resiko tinggi, PUS yang belum mengikuti KB
• Penyuluhan kesehatan
• Pelayanan TMT, oralit, vitamin A, tablet zat besi, pil ulangan, kondom

e). Meja V
• Pemberian imunisasi
• Pemeriksaan kehamilan
• Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
• Pelayanan kontrasepsi IUD, suntikan
Untuk meja I sampai IV dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh petugas kesehatan diantaranya : dokter, bidan, perawat, juru immunisasi dan sebagainya.
2.2.13 Langkah-Langkah Pembentukan Posyandu
a). Persiapan Sosial
• Persiapan masyarakat sebagai pengelola dan pelaksanaan posyandu
• Persiapan masyarakat umum sebagai pemakai jasa posyandu
b). Perumusan Masalah
• Survei Mawas Diri
• Penyajian hasil survey (loka karya mini)
c). Perencanaan Pemecahan Masalah
• Kaderisasi sebagai pelaksana posyandu
• Pembentukan pengurus sebagai pengelola posyandu
• Menyusun rencana kegiatan posyandu
d). Pelaksanaan Kegiatan
• Kegiatan di posyandu 1 kali sebulan atau lebih
• Pengumpulan dana sehat.
• Pencatatan dan laporan kegiatan posyandu
2.2.14 Faktor-faktor yang mempengaruhi Ibu Balita Mengikuti Kegiatan Posyandu
a) Usia
Usia adalah umur atau lama waktu hidup ada (sejak dilahirkan atau diadakan)
b) Pendidikan
Perbuatan (hal, cara, dan sebagainya) mendidik.
c) Pekerjaan
Sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah.
2.3 Kerangka Teori

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Konsep
Peneliti mengangkat gambaran partisipasi ibu karena adanya penurunan partisipasi ibu dalam mengikuti posyandu. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui seberapa besar partisipasi ibu yang mempunyai balita dalam mengikuti posyandu dan factor-faktor apa yang menghambat ibu dalam mengikuti posyandu.

3.1.1 Definisi Operasinal
a. Definisi : kehadiran, kedatangan dan peran serta ibu yang mempunyai balita dalam mengikuti posyandu.
b. Cara ukur : wawancara langsung
c. Alat ukur : kuisioner berisi 10 pertanyaan
d. Hasil ukur : baik, cukup, kurang
e. Skala ukur : ordinal


BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Design Penelitian
Design penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan design deskriptif, yaitu suatu bentuk penelitian untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena ini bisa berupa bentuk aktivitas antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lainnya. ( Sukmadinata, 2006:72)

4.2 Waktu dan Tempat
Tempat penelitian dilakukan di Posyandu wilayah RW XII Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat, penelitian dilakukan selama 6 bulan.

4.3 Populasi dan Sampel
a. Populasi : Ibu yang mempunyai balita ( bayi dibawah lima tahun ) yang berada di wilayah posyandu Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor.
b. Sampel : Ibu yang mempunyai balita ( bayi dibawah lima tahun ) yang berada di posyandu wilayah RW XII Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat.
c. Jumlah : Cara pengambilan sampel dengan minimal 30 responden.
d. Kriteria :
a) Inklusi
Ibu yang mempunyai balita di wilayah RW XII Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor yang berpendidikan minimal SD berusia 20-35 tahun.

b) Eklusi
Ibu yang mempunyai balita di wilayah RW XII Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor yang berpendidikan minimal SD berusia 20-35 tahun namun pada saat dilakukan penelitian ibu maupun balita yang berada di wilayah RW XII Kelurahan Pasir Kuda Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor sedang sakit sehingga tidak dapat mengikuti posyandu serta yang membawa balita itu bukan ibu kandung.
4.4 Pengumpulan Data
Data yang didapat dikumpulkan melalui wawancara dan kuisioner.
4.5 Pengolahan Data
Data yang terkumpul melalui wawancara dan kuisioner diolah dan dipisahkan antara jumlah responden yang berpartisipasi dan tidak berpartisipai dalam kegiatan posyandu melalui proses:
a. Data Coding
b. Data Editing
c. Data File
d. Data Entri
e. Data Cleaning

4.6 Analisa Data
Analisis data yang digunakan yaitu univariat yang menganalisis data satu persatu variable dimana untuk melihat factor yang paling dominan antara ibu yang berpartisipasi maupun tidak berpartisipai dalam kegiatan posyandu.




DAFTAR PUSTAKA

1. Soetedjo. Yuwono. Revitalisasi Posyandu. Jakarta: Dirjen PPM Dep.Kes. 2006
2. Tinuk. Istiarti. Pemberdayaan Masyarakat. Semarang: Universitas
Diponegoro. 2003
3. Puskesmas Sirampog. Data Statistik Puskesmas Sirampog Kabupaten
Brebes. 2006
4. Harbandiyah. Perencanaan dan Evaluasi Pendidikan Kesehatan. Semarang:
Universitas Diponegoro. 2006
5. Arif Budiwan. Artikel Pengaruh Faktor Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku. BP 4 Semarang. 2004
6. Soekidjo Notoatmojo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Edisi 1.
Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2000
7. Brockopp D.Y dan Hastings-Tolsma M.T. Dasar-Dasar Riset Keperawatan
(terjemahan), Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000
8. Nasrul Effendy.Dasar-Dasar Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.1998
9. Nursalam. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.2003
10. Suharsimi. Arikunto. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1997
11. Santoso. R.G. Statistik, Edisi 1. Yogyakarta : Penerbit ANDI. 2004
12. Ahmul A.A. Riset Keperawatan & Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Penerbit
Salemba Medika.2003
13. Soekidjo Notoatmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2002



KUESIONER
GAMBARAN PARTISIPASI IBU YANG MEMPUNYAI BALITA DALAM MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU DI WILAYAH RW XII KEL. PASIR KUDA KEC. BOGOR BARAT KOTA BOGOR
Dalam rangka pemenuhuan tugas akhir, kami mengadakan kuesioner ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bagi kami mahasiswa Politeknik Kesehatan Depkes Bandung Jurusan Keperawatan bogor, untuk itu kami meminta bantuan kepada ibu untuk mengisi kuesioner yang telah disediakan. Cara pengisian kuesioner ini dengan menceklis angka yang telah kami sediakan 1-4 didalam kolom, kemudian ibu dapat menambahkan jawaban ibu dalam kolom keterangan untuk mengisi jawaban yang ibu anggap benar.
No.responden :
Nama :
Alamat :
No. telp :
A. Karakteristik
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Anak ke- :

1. Seberapa Jauh Jarak Posyandu dari rumah ibu ?
a. >100 meter
b. 50 – 100 meter
c. 30 – 40 meter
d. 10 – 20 meter
2. Apakah menurut ibu kegiatan imunisasi di posyandu itu penting ?
a. Tidak penting
b. agak penting
c. Penting
d. Sangat penting
3. Apakah menurut ibu pelayanan posyandu di daerah rumah ibu sudah baik ?
a. Tidak baik
b. agak baik
c. baik
d. Sangat baik
4. Apakah menurut ibu penyelenggaraan imunisasi di posyandu daerah rumah ibu sudah terselenggara dengan baik ?
a. tidak baik
b. agak baik
c. baik
d. sangat baik
5. Apakan ibu mengikuti kegiatan imunisasi di posyandu secara rutin ?
a. Tidak rutin
b. Agak rutin
c. rutin
d. Sangat rutin
6. Menurut ibu seberapa besar keuntungan terselenggaranya posyandu untuk kesehatan putra-putri ibu ?
a. Tidak menguntungkan
b. Sedikit menguntungkan
c. menguntungkan
d. Sangat menguntungkan
7. Apakah ibu tahu tujuan diselenggarakan posyandu ( meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan) ?
a. Tidak tahu
b. cukup tahu
c. tahu
d. sangat tahu
8. Menurut ibu kegiatan imunisasi diselenggarakan berapa minggu sekali ?
a. 1 minggu sekali
b. 2 minggu sekali
c. 3 minggu sekali
d. 4 minggu sekali
9. Apakan ibu mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan diposyandu ?
a. Tidak mengetahui
b. sedikit mengetahui
c. mengetahui
d. sangat mengetahui
10. Apakah ibu tahu sasaran dalam pelayanan kesehatan di posyandu diperuntukkan untuk siapa saja selain bayi dan balita ?
a. Tidak tahu
b. Agak tahu
c. Tahu
d. sangat tahu

Blog Advertising

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles