Showing posts with label PTK. Show all posts
Showing posts with label PTK. Show all posts

2.06.2012


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kualitas pendidikan meliputi diberbagai sektor dan jenjang pendidikan, termasuk jenjang pendidikan dasar. Keberhasilan pendidikan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk guru. Guru yang profesional akan selalu berupaya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap mated yang diajarkan. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang dirinci sebagai berikut :
1. Mendidik adalah usaha sadar untuk meningkatkan dan menylapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya dimasa yang akan datang.
2. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pendidikan pada jalur dan jenjang pendidikan tertentu. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pendidikan pada jalur dan jenjang pendidikan tertentu. (Ngalim Purwanto, 1997: 42)

Penerapan Metode Inkuiri PKn

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggungjawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Dalam dunia pendidikan kita sering mendengar ungkapan yang cukup sederhana yaitu "mendidik anak pada masa kini berarti menyiapkan orang dewasa di masa mendatang". Pendidik haru:s bisa menyiapkan anak didik menjadi orang dewasa yang mandiri, mampu menggunakan dan mengembangkan sendiri kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) yang telah dimilikinya, dan mempunyai sikap yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, dikembangkan iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif. Dengan demikian pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang sesuai dengan isi Kurikulum 2004 adalah pendidikan tentang nilai-nilai yang sasarannya bukan semata-mata pengalihan pengetahuan melainkan lebih ditekankan pada pembentukan sikap. Dengan demikian mata pelajaran PKn meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor, yang lebih menitikberatkan pada ranah afektif.
Kepribadian siswa pada hakikatnya dipengaruhi oleh ranah kognitif, apektif dan psikomotor. Ketiga ranah tersebut menyatu dan sulit dipisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk kepribadian unik setiap manusia. Dalam menyajikan pelajaran, guru harus berupaya mengembangkan ketiga ranah tersebut agar berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran terdapat perbedaan tergantung dari ranah mana yang mendapat penekanan, sementara dalam pembelajaran PKn, hasil akhir yang menjadi tujuan adalah pengembangan ranah apektif yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dan berkembang dalam tatanan kehidupan manusia Indonesia.
Dalam proses pembelajaran PKn, guru belum semuanya melaksanakan pendekatan siswa aktif, dan peranan guru sebagai dinamisator belajar siswa belum diterapkan, namun guru masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Dalam penyampaian materi pelajaran guru masih menggunakan buku-buku sumber dan buku pelengkap sebagaa sumber belajar, dan dalam penyampaian bahan ajar kepada siswa belum digunakan media belajar yang lain.
Untuk pemahaman nilai dalam PKn, terdapat beberapa metode yang dapat dilaksanakan dan dikembangkan oleh guru di antaranya adalah:
1. Metode Ceramah
2. Metode Tanya Jawab
3. Metode Diskusi
4. Metode Karyawisata
5. Metode Pemecahan Masalah
6. Metode Pembinaan Nila
7. Metode Simulasi
8. Metode inkuiri
9. Metode Bermain Peran
10. Metode Permainan
11. Metode Tugas
12. Metode Drill (Depdikbud, 1996:50)
Berdasarkan studi awal yang penulis lakukan pada guru Kelas VI SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing Kab.Majalengka , dalam mengajar guru belum mencobakan metode-metode yang direkomendasikan oleh Depdikbud di atas. Metode yang sering digunakan oleh guru dalam mengajar masih sebatas ceramah dan tanya jawab. Dalam penelitian ini penulis akan mencobakan pembelajaran PKn dengan menggunakan metode inkuiri yang merupakan metode yang belum pernah dicobakan sebelumnya pada siswa.
selengkapnya bisa di download disini

1.20.2012

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP BAHASA INDONESIA DENGAN PENERAPAN PROGRAM REMEDIAL PADA SISWA KELAS VI

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dalam melaksanakan tugas mengajar, guru harus memberikan bimbingan yang diperlukan siswa dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal. Hal ini sangat penting, sebab dalam proses belajar mengajar guru akan menghadapi siswa yang tergolong memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Bagi siswa yang pandai akan lelih cepat menguasai bahan pembelajaran. Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan rendah, mereka biasanya lambat dalam menguasai bahan pelajaran, karena mereka mengalami kesulitan dalam belajar
Dalam pengajaran disekolah pun, khususnya pengajaran Bahasa Indonesia, guru senantiasa berusaha agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda, namun dalam kenyataannya masih banyak siswa yang tidak dapat memahami konsep bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan benda sebagaimana yang diharapkan oleh guru. Hal ini dapat diketahui rendahnya daya serap siswa dalam memahami konsep bahasa Indonesia yaitu mendeskripsikan benda meskipun telah diusahakan dengan baik oleh guru.
Kesulitan siswa dalam memahami konsep Bahasa Indonesia tentang mendeskripsikan suatu gambar merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh guru. Jika guru memberikan ulangan atau tes yang diberikan oleh guru. Jika guru memberikan ulangan atau tes pada setiap pokok bahasan hasilnya 60% siswa mendapat nilai dibawah rata-rata, dan hanya sedikit siswa yang mendapat nilai di atas karena mereka telah memahami konsep yang diajarkan oleh guru. Untuk itu sangat penting bagi guru untuk memberikan bantuan baik berupa perlakuan ataupun cara-cara memahami bahan pelajaran

selengkapnya bisa di sedooott disini
Blog Advertising

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENGARANG DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BERSERI DI KELAS VIA SD IT SINDANG KABUPATEN BANDUNG

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Penelitian
Proses belajar mengajar atau proses pengajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan yang bertujaun untuk mencapai tujaun pendidikan yang telah ditetapkan. Pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku baik intelektual, moral, maupun social agar dapat hidup mandiri sebagai mahluk social maupun mahluk individu. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur guru melalui proses pengajaran.
Lingkungan belajar yang diatur oleh guru mencakup tujuan pengajaran, bahan pengajaran, metodologi pengajaran dan penilaian pengajaran. Tujuan pengajaran adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah proses belajar mengajar. Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip, generalisasi suatu ilmu pengetahuan. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu metodologi pengajaran dan media pengajaran sebagai alat Bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan tarap tercapai tidaknya tujuan pengajaran.
Oleh karena itu sebaiknya guru menyiapkan diri sebelum menyajikan bahan pelajaran. Menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan, dan mengupayakan bahan sajiannya agar mampu meningkatkan keterampilan tertentu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pembelajaran itu akan dapat dicapai, apabilan guru memperhatikan pula alat dan sarana penunjang lainnya.
"Makin luasnya tujuan yang ingin dicapai, menuntut kecermatan guru dalam menggunakan sumber belajar serta memerlukan perencanaan pendidikan yang matang" (Sugono, 1993 : 4).
Pengajaran menulis di SD Kelas VIa menekankan pada pelatihan penerapan ejaan bahasa Indonesia yang benar. Pelatihan tersebut meliputi penulisan paragraf, karangan dalam berbagai bentuk : percakapan, puisi, naskah pidato, naskah drama, laporan, poster, ringkasan formulir dan sebagainya (Depdikbud, 1993 : 30).
Pengajaran menulis di Kelas VIa pada dasarnya berisikan kegiatan berbahasa tulis yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari; seperti penggunaan bahasa tulis pada bidang pekerjaan pendidikan, kesehatan, olah raga dan lain-lain.
Bentuk-bentuk bahasa tulis tersebut pada umumnya memiliki ciri penanda yang membedakan antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lain (Depdikbud, 1993.-30).
Perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan tentang pengajaran bahasa telah jauh meninggalkan ilmu pengajaran bahasa yang bersifat konvensional.
"Pengajaran yang bersifat konvensional berpusat pada guru, sedangkan pengajaran bahasa yang baru berpusat pada siswa" (Sugiono, 1993 : 1), meskipun terdapat perbedaan pandangan namun kedua ilmu pengajaran bahasa itu tetap tidak mengabaikan masalah komunikasi. Penulis berpendapat komunikasi pada jaman modern ini banyak berlngsung secara tertulis. Sejalan dengan hal itu, pengajaran bahasa Indonesia di SD harus memberikan perhatian khusus terhadap menulis.
Lahirnya Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, membawa pengaruh terhadap pengajaran bahasa Indonesia. Hal ini terbukti dengan diangkatnya membaca dan menulis sebagai kemampuan dasar berbahasa. Kemampuan ini diajarkan kepada anak-anak di sekolah secara dini dan berkesinambungan.
Penulis berpendapat masih banyak guru SD yang kurang memperhatikan secara khusus terhadap pengajaran menulis. Tidaklah mengherankan apabila kemampuan siswa dalam membuat karangan tidak memberikan harapan untuk menjadi penulis berbakat. Pengajaran mengarang yang disajikan guru kurang menarik perhatian, sehingga banyak siswa yang menemukan kesulitan apabila disuruh membuat karangan.
Menurut Sugiono, 1993 : 12 "Pertumbuhan dan perkembangan siswa Kelas VIa SD mulai lancar menulis dan memiliki kegemaran mencorat-¬coret buku atau bangku sekolah". Hal tersebut perlu mendapat perhatian guru, agar kegemaran mereka terarah menjadi kebiasaan yang positip. Guru perlu berusaha dan berupaya menumbuhkan dan membina keterampilan mengarang/menulis dengan memanfaatkan faktor psikologis siswa.
Bila guru gagal memanfaatkan masa peka pertumbuhan dan perkembangan ini, besar kemungkinan siswa akan tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit mengeluarkan gagasan secara tertulis.
Penggunaan media pengajaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar/KBM mengarang masih sering diabaikan guru. Mereka tidak mau repot-repot mencari alat bantu pengajaran, mereka lebih senang memilih cara yang dianggapnya praktis yaitu dengan cara memberi tugas, misalnya "Buatlah karangan prosa deskripsi dengan tema kesehatan" (Hermana, 1994 :2) cara seperti ini tidak akan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat karangan secara optimal.
Bertolak dari pemikiran di atas, penulis mendeskripsikan penelitian ini dengan topik :
"Perencanaan Pembelajaran Mengarang Dengan Menggunakan Media Gambar Berseri di Kelas VIa SD IT SINDANG Kabupaten Bandung".

selengkapnya bisa di donwnload disini
Blog Advertising

PEMBELAJARAN MENGUNGKAPKAN KEMBALI ISI WACANA DENGAN MENGGUNAKAN KALIMAT SENDIRI SECARA LISAN PADA SISWA KELAS VI MI NEGERI SUKAWANGI KECAMATAN LEMAHSUGIHKABUPATEN MAJALENGKA

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Bahasa adalah sebagai media komunikasi yang dapat digunakan secara lisan dan tertulis. Oleh karena itu bahasa media komunikasi memegang peranan sangat penting.
Tarigan (1986:14) mengatakan bahwa bahasa yang tersimpan dalam pikiran seseorang dapat terwujud melalui perantara ujaran (lisan atau tulisan).
Komunikasi yang baik dapat dicapai lewat pengajaran bahawa yang mempunyai empat urutan-urutan keterampilan yang harus dikuasai seorang pembelajar bahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Menurut Taylor : ada 3 aspek bahasa yang perlu dipelajari dan dikuasai secara bersamaan yaitu aspek bunyi atau ujaran, aspek kosakata dan aspek tata bahasa atau struktur (Su’udi, 1990 : 39).
Dari empat keterampilan berbahasa tersebut dapat dilihat keterampilan mana yang dibutuhkan untuk komunikasi lisan dan keterampilan mana yang harus dikuasai untuk komunikasi tertulis.
Agar siswa dapat menggunakan bahasa yang dipelajari untuk berkomunikasi secara lisan dengan baik, maka siswa dituntut dapat menerima pesan dari orang lain dan dapat menyampaikan pesan tersebut kepada pihak lain tanpa mengalami kesulitan dalam berbicara.
Salah satu usaha untuk mencapai keterampilan menyimak dan berbicara adalah dengan melatih siswa menangkap/memahami isi wacana tertulis/lisan yang kemudian dilanjutkan dengan melatih siswa untuk menerangkan ide pokok pikirannya dalam berbicara yang disebut sebagai kemampuan reseptif dan kemampuan produktif.
Kebisaan seseorang berpikir logis akan sangat membantu dalam pembelajaran bahasa. Sudarwoto mengatakan (1998 : 4) bahwa siswa yang terbiasa berpikir logis akan mengekspresikan pikirannya dengan menyusun kalimat secara tidak sembarangan saja, dia akan berhati-hati dalam menggunakan kata kerja, kata depan, kata sambung, dalam menyusun kalimat dan dalam menyusun paragraphnya ide pokoknya.

B. Identifikasi Masalah
Pada umumnya siswa MI Negeri Sukawangi Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka banyak mengalami masalah yang sama yaitu kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dan mencarai jalan keluarnya, agar dapat bermanfaat bagi peningkatan proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti merumuskan permasalah sebagai berikut :
“Bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan”
Untuk mendukung penelitian ini, perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penelitian dapat terarah sesuai dengan sasaran yaitu :
1. Apakah materi wacana yang dipilih menarik bagi siswa ?
2. Adakah bagian-bagian wacana yang sulit dipahami oleh Siswa ?
3. Apakah wacana tersebut mempunyai nilai terapan/manfaat yang tinggi ?

C. Tujuan Penelitian
1. Menemukan cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan.
2. Memilih materi wacana yang menarik bagi siswa.
3. Mengetahui bagian-bagian wacana yang sulit dipahami siswa.
4. Mengetahui nilai terapan yang ada pada wacana.
5. Membantu siswa memperkaya kosakata, keterampilan dalam meringkas, merangkum secara urut dan menceritakan kembali isi wacana tanpa kesulitan dalam penyampaian kepada orang lain.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa :
a. Dapat meningkatkan keterampilan menceritakan kembali isi wacana secara lisan.
b. Dapat memperkaya kosakata.
c. Meningkatkan keterampilan menyimak wacana,
d. Memiliki kepercayaan diri dengan menggunakan kemampuan berbicara lebih baik dan sistematis.
e. Dapat menyadarkan akan pentingnya peran membaca dan berbicara sebagai media untuk menghubungkan cara berpikir.
f. Dapat menumbuhkan motivasi pentingnya membaca sebagai sarana memperkaya informasi dan pengetahuan.
2. Bagi Guru :
Dapat memperbaiki dan meningkatkan cara mengajar yang sangat berpengaruh pada mutu tamatan.
3. Bagi Sekolah :
Dapat melakukan inovasi pendidikan dan pengajaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

F. Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana secara lisan dapat diatasi dengan pelatihan pemahaman siswa terhadap isi wacana
download secara full di Salah satu usaha untuk mencapai keterampilan menyimak dan berbicara adalah dengan melatih siswa menangkap/memahami isi wacana tertulis/lisan yang kemudian dilanjutkan dengan melatih siswa untuk menerangkan ide pokok pikirannya dalam berbicara yang disebut sebagai kemampuan reseptif dan kemampuan produktif.
Kebisaan seseorang berpikir logis akan sangat membantu dalam pembelajaran bahasa. Sudarwoto mengatakan (1998 : 4) bahwa siswa yang terbiasa berpikir logis akan mengekspresikan pikirannya dengan menyusun kalimat secara tidak sembarangan saja, dia akan berhati-hati dalam menggunakan kata kerja, kata depan, kata sambung, dalam menyusun kalimat dan dalam menyusun paragraphnya ide pokoknya.

B. Identifikasi Masalah
Pada umumnya siswa MI Negeri Sukawangi Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka banyak mengalami masalah yang sama yaitu kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian dan mencarai jalan keluarnya, agar dapat bermanfaat bagi peningkatan proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti merumuskan permasalah sebagai berikut :
“Bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan”
Untuk mendukung penelitian ini, perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penelitian dapat terarah sesuai dengan sasaran yaitu :
1. Apakah materi wacana yang dipilih menarik bagi siswa ?
2. Adakah bagian-bagian wacana yang sulit dipahami oleh Siswa ?
3. Apakah wacana tersebut mempunyai nilai terapan/manfaat yang tinggi ?

C. Tujuan Penelitian
1. Menemukan cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kalimat sendiri secara lisan.
2. Memilih materi wacana yang menarik bagi siswa.
3. Mengetahui bagian-bagian wacana yang sulit dipahami siswa.
4. Mengetahui nilai terapan yang ada pada wacana.
5. Membantu siswa memperkaya kosakata, keterampilan dalam meringkas, merangkum secara urut dan menceritakan kembali isi wacana tanpa kesulitan dalam penyampaian kepada orang lain.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa :
a. Dapat meningkatkan keterampilan menceritakan kembali isi wacana secara lisan.
b. Dapat memperkaya kosakata.
c. Meningkatkan keterampilan menyimak wacana,
d. Memiliki kepercayaan diri dengan menggunakan kemampuan berbicara lebih baik dan sistematis.
e. Dapat menyadarkan akan pentingnya peran membaca dan berbicara sebagai media untuk menghubungkan cara berpikir.
f. Dapat menumbuhkan motivasi pentingnya membaca sebagai sarana memperkaya informasi dan pengetahuan.
2. Bagi Guru :
Dapat memperbaiki dan meningkatkan cara mengajar yang sangat berpengaruh pada mutu tamatan.
3. Bagi Sekolah :
Dapat melakukan inovasi pendidikan dan pengajaran yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

F. Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kesulitan dalam mengungkapkan kembali isi wacana secara lisan dapat diatasi dengan pelatihan pemahaman siswa terhadap isi wacana
untuk mendapatkan PTK lengkap silahkan download disini Blog Advertising

1.17.2012

PENGARUH ALAT BANTU LOMPAT RINTANG DAN MERAIH SASARAN DIATAS TERHADAP KEMAMPUAN TINGGINYA LOMPATAN SISWA MTs NEGERI TALAGA

B. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, baik sebagai arena adu prestasi maupun sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Olahraga mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui olahraga dapat dibentuk manusia yang sehat jasmani, rohani serta mempunyai kepribadian, disiplin, sportifitas yang tinggi sehingga pada akhirnya akan terbentuk manusia yang berkualitas. Suatu kenyataan yang bisa diamati dalam dunia olahraga, menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan prestasi olahraga yang pesat dari waktu kewaktu baik ditingkat daerah, nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilihat dari pemecahan-pemecahan rekor yang terus dilakukan pada cabang olahraga tertentu, penampilan tehnik yang efektif dan efisien dengan ditunjang oleh kondisi fisik yang baik
Dengan adanya kecendrungan prestasi yang meningkat, maka untuk berpartisipasi dan bersaing antar atlet dalam kegiatan olahraga prestasi harus dikembangkan kualitas fisik, tehnik, psikologi dan sosial yang dituntut oleh cabang olahraga tertentu. Oleh karena itu melalui pengembangan dan pembinaan di masyarakat, olahraga wajib diajarkan di sekolah-sekolah dari sekolah tingkat dasar, sekolah tingkat pertama sampai dengan sekolah tingkat menengah.
Permainan bola voli merupakan permainan yang banyak digemari orang diseluruh dunia, sampai sekarang pertandingan – pertandingan tingkat internasional sering digelar di berbagai Negara
Untuk terampil bermain bola voli, maka pemain harus menguasai beberapa jenis keterampilan bermain voli antara lain servis, passing, setting, dan spike. Prestasi yang dicapai oleh suatu regu ditentukan oleh kemampuan para pemain dalam mengkombinasikan keseluruhan keterampilan ini.
Jika dilihat dari aspek mekanik gerak, maka dari keempat adalah servis dan spike. Karena kedua jenis keterampilan ini berfungsi sebagai senjata penyerangan untuk menghasilkan angka.
Untuk spike yang efektif, maka pemain harus :
1. Meningkatkan kecepatan horizontal yang tinggi pada saat awalan
2. Mengubah kecepatan horizontal menjadi kecepatan vertical yang tinggi pada waktu takeoff
3. Meningkatkan tegangan maksimum selama persiapan lompatan ( kedua tangkai harus ditahan dan meminimalkan fleksi lutut selama fase persiapan lompatan )
4. Tidak memulai gerak ekstensi selama fase persiapan lompatan.
Pembelajaran adalah suatu aktivitas mengajar dan belajar yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar, maka ada pula yang belajar. Proses belajar-mengajar akan menghasilkan perubahan tingkah laku pada siswa berupa perubahan kognitif, perubahan afektif, dan perubahan psikomotor. Perubahan psikomotor dapat dicapai melalui proses belajar keterampilan gerak.
Banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar-mengajar keterampilan gerak. Dalam hal ini Nadisah (1983: 40) mengemukakan bahwa faktor pendukung keberhasilan belajar-mengajar antara lain sebagai berikut:
1. Karakteristik individu yang bersangkutan;
2. Luas dan tingkat kesulitan materi;
3. Metode penyampaian;
4. Kondisi-kondisi yang disediakan;
5. Penggunaan media;
6. Kesempatan yang tersedia; dan
7. Guru serta tujuan instruksional
Dengan demikian banyak faktor yang menentukan dalam melaksanakan kegiatan proses belajar-mengajar agar mencapai hasil yang baik.
Salah satu faktor penting yang turut menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar adalah media yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Penggunaan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai diharapkan dapat mencapai hasil yang efektif. Hal ini seperti dikemukakan Surachmad (1984: 59) bahwa:
Satu di antara teknik yang lazim dipergunakan ialah pemakaian alat-alat pembantu mengajar, baik sebagai alat peraga, maupun sebagai manusia sumber, dan lain-lain lagi. Jadi pakta prinsipnya penggunaan alat pembantu harus dapat mempertinggi efisiensi metode utama yang dipakai mengajar, artinya bahwa setiap penggunaan alat pembantu harus dapat membawa guru dan murid lebih dekat lagi pada tujuan yang telah ditetapkan. Surachmad (1984: 59).
Dalam proses belajar-mengajar, keterampilan merupakan salah satu faktor untuk mencapai tujuan gerak yang diharapkan (hasil belajar), kadang-kadang guru olah raga dihadapkan pada suatu kendala terutama kesulitan yang menyangkut terbatasnya fasilitas, baik itu lapangan atau peralatan, tak terkecuali dalam bidang olah raga permainan bola voli terutama spike
Dari pengamatan penulis pada beberapa kegiatan belajar-mengajar permainan cabang bola voli di sekolah-sekolah baik di kota maupun di daerah, banyak guru olah raga yang kurang memanfaatkan alat-alat bantu pembelajaran. Padahal alat bantu berguna untuk menjadi daya dukung dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Seperti telah diungkapkan terdahulu bahwa salah satu tujuan dari spike adalah meningkatkan kecepatan horizontal yang tinggi pada awalan .
Banyak alat bantu dalam proses belajar-mengajar bola voli yang dapat digunakan, salah satu alat bantu yang penulis kembangkan dalam hal ini adalah latihan lompata dengan rintangan dan lompat meraih sasaran.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pengaruh Alat Bantu Lompat Rintang dan Meraih Sasaran di Atas Terhadap Kemampuan Tingginya Lompatan siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka

C.Rumusan Masalah
Seperti yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah di atas, bahwa banyak faktor yang dapat menentukan keberhasilan dalam mempelajari keterampilan gerak. Salah satunya adalah penggunaan Alat Bantu . Yang dimaksud Alat Bantu dalam penelitian ini adalah lompat dengan rintang dan lompat meraih sasaran


Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil permasalahan sebagai berikut :
Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintang dan meraih sasaran diatas terhadap kemampuan tingginnya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
D.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan tingginya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
2. Apabila ditemukan ada perbedaan maka akan dicari bentuk latihan mana yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap kemampuan tingginya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
E. Kegunaan Penelitian
Apabila hasil penelitian ini menunjukan hasil yang positif, diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bahan masukan bagi guru pendidikan jasmani untuk mempertimbangkan penggunaan Alat Bantu dalam proses belajar mengajar bola voli terutama spike.
2. Bahan informasi mengenai efektivitas penggunaan Alat Bantu terhadap hasil belajar bola voli terutama spike.


F. Hipotesis
Hipoteisis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti malalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1998 : 67). Penolakan atau penerimaan suatu hipotesis sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap data-data yang terkumpul.
Berdasarkan hasil analisis dari latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran di atas, maka dapat dikemukakan rumusan hipotesis peneliti sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan tingginya lompatan pada siswa MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
G. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 2000 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 115), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan subjek penelitian dan keseluruhan individu itu paling sedikit harus memiliki suatu sifat yang sama.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas VIII MTs Negeri Talaga yang berjumlah 30 orang siswa putra. Adapun alasan pengambilan populasi adalah :
1. Mereka sama-sama dalam satu sekolah, yaitu siswa putra kelas VIII MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka
2. Mempunyai jenis kelamin yang sama , yaitu laki-laki
Berdasarkan uraian di atas, maka populasi yang diambil telah memenuhi syarat, dimana suatu populasi harus memiliki minimal satu sifat yang sama, berarti populasi ini dapat diterima.
G. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 1998 : 117). Pendapat lain, Sutrisno Hadi (2000 : 221), menjelaskan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang diselidiki.
Pedoman dalam pengambilan jumlah sampel ini, penulis mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto (1998 : 120) yaitu hanya untuk sekedar ancer-ancer apabila subyek kurang dari 100 sebaiknya diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyek besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, dana, dan tenaga.
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra kelas VIII MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka , yang berjumlah 30 anak. Subyek yang diteliti sejumlah 30 orang siswa maka ditetapkan sebagai sampel semua karena jumlah sampel atau subyeknya kurang dari 100 orang. Oleh sebab itu dalam penentuan atau pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling, yaitu mengikutkan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian.





H.Tahap-Tahap Penelitian
Dalam penelitian ini penulis melakukan tahap-tahap penelitian sebagaimana tercantum pada diagram berikut ini :
























I.Teknik Pengolahan Data
Setelah data diperoleh melalui hasil tes awal dan tes akhir langkah selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan rumus-rumus statistik. Dari hasil pengolahan dan penganalisaan melalui penghitungan statistik akan diperoleh jawaban mengenai diterima atau ditolaknya hipotesis sesuai dengan tingkat kepercayaan atau taraf nyata yang diajukan, juga akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan permasalahan yang ada.
Adapun langkah-langkah pengujian terhadap dua perlakuan setelah data didapatkan yaitu : (1) Mengetes normalitas dari distribusi masing-masing kelompok; (2) Jika ternyata keduanya berdistribusi normal dilanjutkan dengan pengetesan tentang homogenitas variansinya; (3) Jika ternyata variansinya homogen dilanjutkan dengan uji t (Nurgana, 1995 :21).
1. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan maksud untuk mengetahui bahwa data berdistribusi normal atau tidak normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Chi-kuadrat (2). Langkah-langkah dalam uji normalitas adalah sebagai berikut :
a. Membuat distribusi frekuensi
1) Menentukan rentang (R)
R = Nilai terbesar – nilai terkecil
2) Menentukan banyaknya kelas interval (K)
K = 1 + 3,3 log n
3) Menentukan panjang kelas (P)

4) Memasukkan data nilai dalam tabel berikut :
Skor fi xi xi2 fixi fixi2


5) Menghitung rata-rata dengan rumus :

6) Menghitung standar deviasi dengan rumus :

b. Menguji normalitas dengan langkah-langkah berikut :
1) Menentukan batas kelas interval (bk)
2) Mentransformasikan batas kelas interval kedalam bentuk normal standar (z) dengan rumus :

3) Menghitung luas kelas interval (l)
Dihitung dengan menggunakan daftar z dengan cara za-zb
4) Menghitung frekuensi yang diharapkan (Ei)
Ei = l x n
5) Menghitung Chi-kuadrat (2)

dimana :
Oi : frekuensi observasi
Ei : frekuensi ekspektasi
6) Menentukan derajat kebebasan
dk = k – 3
7) Menentukan Chi-kuadrat (2) daftar
8) Menentukan kriteria uji normalitas
Jika 2hitung  2 tabel maka data berdistribusi normal dan jika sebaliknya maka data berdistribusi tidak normal.
2. Tes Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat bahwa data berdistribusi homogen, pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji-F. Langkah-langkah dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut :
a. Menentukan variansi data penelitian
b. Mencari nilai tingkat homogenitas (F)



dimana :
F = nilai tingkat homogenitas
Sb2 = variansi terbesar
Sk2 = variansi terkecil
(Sudjana, 1996 : 249)
c. Menentukan derajat kebebasan
Rumus : dk1 = n1 – 1 dk2 = n2 – 1
Keterangan :
dk1 = derajat kebebasan pembilang
dk2 = derajat kebebasan penyebut
n1 = ukuran sampel yang variansinya besar
n2 = ukuran sampel yang variansinya kecil
d. Menentukan nilai F dari tabel
e. Penentuan homogenitas
Jika Fhitung  Ftabel maka kedua variansi homogen.
Jika Fhitung  Ftabel maka kedua variansi tidak homogen.
3. Uji Hipotesis
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bila data berdistribusi homogen dilakukan uji t dan bila tidak berdistribusi homogen maka dilakukan uji t’. Adapun rumus yang digunakan yaitu :
- Rumus uji t untuk data yang berdistribusi homogen :

Standar deviasi gabungan (Sp) dihitung dengan rumus :

(Sudjana, 1996 : 239)
Derajat kebebasan dihitung dengan rumus :
v = n1 + n2 – 2
(Sudjana, 1996 : 249)
- Rumus uji t’, bila data tidak homogen yaitu :

Derajat kebebasan dihitung dengan rumus :

(Sudjana, 1996 : 241)
b. Menentukan nilai t tabel
c. Menguji hipotesis
Jika t hitung  t tabel maka perbedaan rata-rata kelompok eksperimen dan rata-rata kelompok kontrol signifikan pada taraf tertentu, jadi kesimpulannya Hipotesis Nol (H0) ditolak (Sudjana, 1996 : 23).

J.Lokasi dan lamanya penelitian

1. Lokasi MTs Negeri Talaga Kabupaten Majalengka.
2. Lamanya penelitian 4 minggu
Blog Advertising

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles